Sabtu, 12 Mei 2012


TUGAS KESEHATAN MENTAL
“KONSEP DASAR STRESS”
Tugas ini disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Kesehatan Mental
Dosen Pengampu : Drs. A. H. Syamsuri, M.M.



OLEH KELOMPOK 1 ( KELAS A )




RETNO DWININGSIH           K3109065
ROSI ARDE K.                         K3109070
RIAN HERMAWAN                K3109069
SARAH SABARANINGSIH    K3109072
SUBHAN WAHYU P.                K3109075
TRI YUNIATI                            K3109077
UMMI MAFTUKAH R.            k3109078
 WACHID AHMAD F.               K3109079
 WINDI ADMINI                       K3109080
 WISNU ANA S.                          K3109081
YOANA ASTIANINGRUM      K3109082
YULIANA ENDAH P. L.           K3109083
 ZAFIRAH FARIS                      K3109084
RINA SETIYAWATI                 K3110058




PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012






KESEHATAN MENTAL


A.    Pengertian Kesehatan Mental
Ilmu kesehatan mental merupakan terjemahan dari istilah mental hygene. Mental dari kata latin mens, mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat, sedangkan hygene dari kata yunani yaitu hugene berarti ilmu tentang kesehatan.
Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang memperhatikan perawatan mental atau jiwa. Sama seperti ilmu pengetahuan yang lain, ilmu kesehatan mental mempunyai obyek khusus untuk diteliti dan obyek tersebut adalah manusia. Manusia dalam ilmu ini diteliti dari titik tolak keadaan atau kondisi mentalnya.
Pengertian kesehatan mental beragam ungkapnya. Berikut ini adalah beberapa  pengertian menurut para ahli :
1.      Kesehatan mental adalah terhindarnya individu dari symptom-symptom neurosis dan psikosis.
2.      Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang lain dan dengan masyarakat dimana dia hidup. Maka orang dikatakan bermental sehat adalah orang yang dapat menguasai segala faktor dalam hidupnya sehingga ia dapat mengatasi kekalutan mental sebagai akibat dari tekanan-tekanan perasaan dan hal-hal yang menimbulkan frustasi.   
3.      Menurut  Dr. Zakiah Daradjat
a.      Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
b.      Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana dia hidup dan berinteraksi.
c.      Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
d.     Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri.
Jadi, dalam hal ini kesehatan mental dapat dirangkum. Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.

B.     Karakteristik Mental yang Sehat dan Tidak Sehat
1.      Karakteristik Mental yang Sehat :
a.      Terhindar dari gangguan jiwa
Zakiyah Daradjat (1975) mengemukakan perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa (psikose), yaitu:
1)      Neurose masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psikose tidak. 
2)      Neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. sedangkan yang kena psikose kepribadiaannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas, dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
b.      Dapat menyesuaikan diri
Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/ memenuhi kebutuhan (needs satisfaction), dan mengatasi stres, konflik, frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu. Seseorang dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri sendiri dan lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama.
c.      Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam kegiatan-kegiatan belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja, berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga.
d.     Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa tidak mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di atas kerugian orang lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai kebahagiaan bersama.

2.      Karakteristik Mental yang Kurang Sehat
Golongan yang kurang sehat adalah orang yang merasa terganggu ketentraman hatinya. Adanya abnormalitas mental ini biasanya disebabkan karena ketidakmampuan individu dalam menghadapi kenyataan hidup, sehingga muncul konflik mental pada dirinya. Gejala-gejala umum yang kurang sehat mentalnya, yakni dapat dilihat dalam beberapa segi, antara lain :

a.      Perasaan
Orang yang kurang sehat mentalnya akan selalu merasa gelisah karena kurang mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.
b.      Pikiran
Orang yang kurang sehat mentalnya akan mempengaruhi pikirannya, sehingga ia merasa kurang mampu melanjutkan sesutu yang telah direncanakan sebelumnya, seperti tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu pekerjaan, pemalas, pelupa, apatis dan sebagainya.
c.      Kelakuan
Pada umumnya orang yang kurang sehat mentalnya akan tampak pada kelakuan-kelakuannya yang tidak baik, seperti keras kepala, suka berdusta, mencuri, menyeleweng, menyiksa orang lain, dan segala yang bersifat negatif.

C.    Tempat yang Membutuhkan Kesehatan Mental
Tempat yang membutuhkan kesehatan mental dibagi menjadi 2 :
1.      Lingkungan Primer
Lingkungan yang paling awal dikenal dan terdekat oleh anak. Lingkungan primer merupakan lingkungan keluarga di dalamnya terjadi interaksi yang intens dengan orang tua. Orang tua secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi setiap terbentuknya perilaku dasar pada anak. Anak cenderung melakukan peniruan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya, maka orang tua merupakan pihak yang sangat bertanggung jawab terhadap arah perkembangan anak.
Menurut W.Stern, keluarga merupakan tempat pertama anak memperoleh pendidikan dan contoh-contoh perkembangan pribadi anak berasal dari hereditas dan lingkungan sosial. Kartini Kartono  berpendapat bahwa, kekeliruan perbuatan orang tua (salah asuh, ucapan, tindakan orangtua) menjadi sumber tindak asusila, gangguan mental dan konflik batin pada anak. Beberapa kejadian yang menimbulkan gangguan mental :
a.      Kegagalan
b.      Kebingungan
c.      Larangan sosial
d.     Overprotection
e.      Ditolak orang tua
f.       Broken home
g.      Cacat fisik
h.      Pengaruh orang tua
i.        Lingkungan sekolah yang buruk
j.        Lingkungan sosial yang buruk
2.      Lingkungan sekunder
Lingkungan kedua ini contohnya lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan lingkungan masyarakat. Di lingkungan ini individu belajar untuk melakukan sosialisasi terhadap orang-orang sekitarnya, terlebih dengan sebayanya. Pada lingkungan ini individu juga akan terpengaruh pada perubahan yang terjadi di dalamnya. Seperti pada lingkungan primer, lingkungan sekunder mempunyai peranan penting dalam mengawal masa transisi anak.
a.      Lingkungan Sekolah
Pada umunya perhatian akan pentingnya kesadaran dan pemahaman terhadap kesehatan mental di lingkungan sekolah kerap luput, maka dari itu perlu perhatian serius dari segenap pihak, khususnya pada guru pembimbing atau konselor. Dan tak lepas dari peranan kepala sekolah, guru mata pelajaran, maupun staf kantor. Kurangnya perhatian terhadap masalah kesehatan mental peserta didik tak jarang berakibat pada timbulnya maladjustment atau tindakan penyimpangan dalam berbagai bentuk dan tentunya bisa sangat merugikan.
Manifestasi dari berbagai gejala gangguan kesehatan mental yang dialami peserta didik ini pada akhirnya akan mempengaruhi pencapaian kognitif akademik siswa berupa prestasi belajar dan berpengaruh terhadap perkembangan psikis yang tidak optimal pada siswa. Pengaruh pada prestasi belajar umumnya ditandai dengan menurunnya daya tangkap terhadap materi yang diajarkan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan tugas maupun ujian yang berakibat pada jatuhnya hasil belajar yang ditandai dengan nilai-nilai yang tidak memenuhi standar. Sedangkan pada perkembangan psikis, hal ini terkait pada masalah kenakalan remaja berupa tingkah laku agresif, pergaulan bebas, tindak asusila. Pada kedisiplinan berupa menyontek, acuh terhadap tata tertib, ketidakrapian dalam berpakaian. Gangguan mental nampak pada sikap yang dingin terhadap lingkungan, selalu murung, rasa cemas yang belebihan.
Dari uraian singkat diatas secara umum kita mampu memahami kesehatan mental di lingkungan sekolah. Maka beberapa hal yang dapat diupayakan untuk menerapkan prinsip kesehatan mental di lingkungan sekolah, Dr. Muh Surya (1985) mengungkapkan beberapa saran diantaranya :
1)      Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah (at home) bagi anak didik, baik secara sosial, fisik, maupun akademis.
2)      Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi anak.
3)  Usaha pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4)      Menggunakan metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5)      Ruangan kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
6)      Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat membesarkan motivasi belajar.
7)      Menciptakan situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
8)      Peraturan/tata tertib yang jelas dan dipahami oleh murid.
9)      Penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
10)  Teladan dari para guru dalam segala segi pendidikan.
11)  Kerjasama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah.
12)  Pelaksanaan program bimbingan dan penyuluhan (konseling) yang sebaik-baiknya.
13)  Pelaksanaan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) termasuk usaha kesehatan mental.
14)  Penyediaan fasilitas belajar yang memadai.
Masih terkait dengan paparan di atas bahwa pendekatan yang digunakan pada peserta didik bukan lagi bersifat kuratif penyembuhan dimana tindakan muncul ketika siswa baru mengalami masalah tetapi lebih diarahkan pada perkembangan (developmental approach). Hal ini bersifat edukatif pengembangan dan outreach (Nurihsan : 2009)
Maka dibutuhkan layanan yang bersifat komprehensif dari tiap-tiap komponen sekolah. Konselor dituntut mampu memberikan layanan konseling serta mampu meyampaikan bimbingan dengan baik. Selain itu juga dituntut untuk dapat bersinergi dengan guru mata pelajaran, kepala sekolah, dan warga sekolah yang lain juga ketersediaan fasilitas yang mendukung guna terciptanya kesehatan mental di lingkungan sekolah.
b.      Lingkungan Kerja
Sebagaimana biasa dilakukan, di sini kita pun membahas keselamatan dan kesehatan kerja bersama-sama. Walaupun ada hubungan erat antara kesehatan kerja dan keselamatan kerja, namun ada alasan untuk membedakan dua masalah itu.
Keselamatan kerja bisa terwujud bilamana tempat kerja itu aman jika bebas dari risiko terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan si pekerja cedera atau bahkan mati.
Kesehatan kerja dapat direalisasikan karena tempat kerja dalam kondisi sehat. Tempat kerja bisa dianggap sehat, kalau bebas dari risiko terjadinya gangguan kesehatan atau penyakit (occupational diseases) sebagai akibat kondisi kurang baik di tempat kerja.
Beberapa hal yang terjadi di lingkungan kerja yang menimbulkan gangguan mental :
1)      Tuntutan pekerjaan
2)      Rekan yang kurang kondusif
3)      Iklim pekerjaan
c.      Lingkungan Masyarakat
Masyarakat sebagai tempat interaksi terdekat setelah lingkungan keluarga memiliki andil yang besar untuk menjadikan individu sehat mental atau tidak. Masyarakat memiliki pengaruh dalam membentuk pola pikir dan cara pandang diri sendiri atau orang lain.
Beberapa hal yang terjadi di lingkungan masyarakat yang menimbulkan gangguan mental :
1)      Penerimaan sosial masyarakat terhadap diri
2)      Iklim pergaulan
3)      Cara berfikir masyarakat

D.    Cara Memelihara Kesehatan Mental
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :
1.      Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
2.      Memiliki interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema hidup termasuk stres.
3.      Mampu mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
4.      Mampu bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain.
5.      Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan.
6.      Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
7.      Mawas diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul.
8.      Memiliki perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.







REFERENSI


Daradjad, Zakiah. 1983. Kesehatan Mental. Jakarta : PT Gunung Agung
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta : Kanisius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar