TUGAS KESEHATAN MENTAL
“KONSEP DASAR STRESS”
Tugas
ini disusun untuk memenuhi Mata Kuliah Kesehatan
Mental
Dosen
Pengampu : Drs. A. H. Syamsuri, M.M.
OLEH KELOMPOK 1 ( KELAS A )
RETNO DWININGSIH K3109065
ROSI ARDE K. K3109070
RIAN HERMAWAN K3109069
SARAH SABARANINGSIH K3109072
SARAH SABARANINGSIH K3109072
SUBHAN WAHYU P. K3109075
TRI YUNIATI K3109077
UMMI MAFTUKAH R. k3109078
WACHID AHMAD F. K3109079
WINDI ADMINI K3109080
WISNU ANA S. K3109081
YOANA ASTIANINGRUM K3109082
YULIANA ENDAH P. L. K3109083
ZAFIRAH FARIS K3109084
RINA SETIYAWATI K3110058
PROGRAM
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET
SURAKARTA
KESEHATAN MENTAL
A.
Pengertian
Kesehatan Mental
Ilmu kesehatan mental merupakan
terjemahan dari istilah mental hygene.
Mental dari kata latin mens, mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh,
semangat, sedangkan hygene dari kata yunani yaitu hugene berarti ilmu tentang
kesehatan.
Ilmu kesehatan mental adalah ilmu yang
memperhatikan perawatan mental atau jiwa. Sama seperti ilmu pengetahuan yang
lain, ilmu kesehatan mental mempunyai obyek khusus untuk diteliti dan obyek
tersebut adalah manusia. Manusia dalam ilmu ini diteliti dari titik tolak
keadaan atau kondisi mentalnya.
Pengertian kesehatan mental beragam
ungkapnya. Berikut ini adalah beberapa pengertian menurut para ahli :
1. Kesehatan
mental adalah terhindarnya individu dari symptom-symptom neurosis dan psikosis.
2. Kesehatan
mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan
orang lain dan dengan masyarakat dimana dia hidup. Maka orang dikatakan
bermental sehat adalah orang yang dapat menguasai segala faktor dalam hidupnya
sehingga ia dapat mengatasi kekalutan mental sebagai akibat dari tekanan-tekanan perasaan dan
hal-hal yang menimbulkan frustasi.
3. Menurut Dr. Zakiah Daradjat
a. Kesehatan
mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
b. Kesehatan
mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri dengan orang
lain dan masyarakat serta lingkungan dimana dia hidup dan berinteraksi.
c. Kesehatan
mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan
memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin,
sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain serta dari
gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
d. Kesehatan
mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara
fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi
problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan
kemampuan diri.
Jadi, dalam hal ini kesehatan mental dapat
dirangkum. Kesehatan mental adalah keserasian atau kesesuaian antara seluruh
aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal
agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan
tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok
maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara
sosial.
B.
Karakteristik
Mental yang Sehat dan Tidak Sehat
1.
Karakteristik Mental yang Sehat :
a.
Terhindar dari gangguan jiwa
Zakiyah Daradjat (1975)
mengemukakan perbedaan antara gangguan jiwa (neurose) dengan penyakit jiwa
(psikose), yaitu:
1)
Neurose masih mengetahui
dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psikose tidak.
2)
Neurose kepribadiannya
tidak jauh dari realitas dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya.
sedangkan yang kena psikose kepribadiaannya dari segala segi (tanggapan,
perasaan/emosi, dan dorongan-dorongan) sangat terganggu, tidak ada integritas,
dan ia hidup jauh dari alam kenyataan.
b.
Dapat menyesuaikan diri
Penyesuaian diri (self adjustment) merupakan proses untuk memperoleh/
memenuhi kebutuhan (needs satisfaction), dan mengatasi stres, konflik,
frustasi, serta masalah-masalah tertentu dengan cara-cara tertentu. Seseorang
dapat dikatakan memiliki penyesuaian diri yang normal apabila dia mampu
memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalahnya secara wajar, tidak merugikan diri
sendiri dan lingkungannya, serta sesuai denagn norma agama.
c.
Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Individu yang sehat mentalnya adalah yang mampu memanfaatkan potensi yang
dimilikinya, dalam kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif bagi
pengembangan kualitas dirinya. pemanfaatan itu seperti dalam kegiatan-kegiatan
belajar (dirumah, sekolah atau dilingkungan masyarakat), bekerja,
berorganisasi, pengembangan hobi, dan berolahraga.
d.
Tercapai kebahagiaan pribadi dan orang lain
Orang yang sehat mentalnya menampilkan perilaku atau respon-responnya
terhadap situasi dalam memenuhi kebutuhannya, memberikan dampak yang positif
bagi dirinya dan atau orang lain. dia mempunyai prinsip bahwa tidak
mengorbankan hak orang lain demi kepentingan dirnya sendiri di atas kerugian orang
lain. Segala aktivitasnya di tujukan untuk mencapai kebahagiaan bersama.
2.
Karakteristik Mental
yang Kurang Sehat
Golongan
yang kurang sehat adalah orang yang merasa terganggu ketentraman hatinya.
Adanya abnormalitas mental ini biasanya disebabkan karena ketidakmampuan
individu dalam menghadapi kenyataan hidup, sehingga muncul konflik mental pada
dirinya. Gejala-gejala umum yang kurang sehat mentalnya, yakni dapat dilihat
dalam beberapa segi, antara lain :
a. Perasaan
Orang
yang kurang sehat mentalnya akan selalu merasa gelisah karena kurang mampu
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya.
b. Pikiran
Orang
yang kurang sehat mentalnya akan mempengaruhi pikirannya, sehingga ia merasa
kurang mampu melanjutkan sesutu yang telah direncanakan sebelumnya, seperti
tidak dapat berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu pekerjaan, pemalas, pelupa,
apatis dan sebagainya.
c. Kelakuan
Pada
umumnya orang yang kurang sehat mentalnya akan tampak pada kelakuan-kelakuannya
yang tidak baik, seperti keras kepala, suka berdusta, mencuri, menyeleweng,
menyiksa orang lain, dan segala yang bersifat negatif.
C.
Tempat
yang Membutuhkan
Kesehatan Mental
Tempat yang membutuhkan
kesehatan mental dibagi menjadi 2 :
1. Lingkungan
Primer
Lingkungan yang paling awal dikenal dan
terdekat oleh anak. Lingkungan primer merupakan lingkungan keluarga di dalamnya
terjadi interaksi yang intens
dengan orang tua. Orang tua secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi
setiap terbentuknya perilaku dasar pada anak. Anak cenderung melakukan peniruan terhadap
hal-hal yang terjadi di sekitarnya,
maka orang tua merupakan pihak yang sangat bertanggung jawab terhadap arah
perkembangan anak.
Menurut W.Stern, keluarga merupakan tempat
pertama anak memperoleh pendidikan dan contoh-contoh perkembangan
pribadi anak berasal dari hereditas dan lingkungan sosial. Kartini Kartono berpendapat bahwa, kekeliruan perbuatan orang
tua (salah asuh, ucapan, tindakan orangtua) menjadi sumber tindak asusila,
gangguan mental dan konflik batin pada anak. Beberapa kejadian yang menimbulkan
gangguan mental :
a. Kegagalan
b. Kebingungan
c. Larangan
sosial
d. Overprotection
e. Ditolak
orang tua
f. Broken
home
g. Cacat
fisik
h. Pengaruh
orang tua
i.
Lingkungan sekolah yang
buruk
j.
Lingkungan sosial yang
buruk
2. Lingkungan
sekunder
Lingkungan kedua ini contohnya
lingkungan sekolah, lingkungan kerja dan lingkungan masyarakat. Di lingkungan
ini individu belajar untuk melakukan sosialisasi terhadap orang-orang
sekitarnya, terlebih dengan sebayanya. Pada lingkungan ini individu juga akan
terpengaruh pada perubahan yang terjadi di dalamnya. Seperti pada lingkungan
primer, lingkungan sekunder mempunyai peranan penting dalam mengawal masa
transisi anak.
a. Lingkungan
Sekolah
Pada umunya perhatian akan pentingnya
kesadaran dan pemahaman terhadap kesehatan mental di lingkungan sekolah kerap
luput, maka dari itu perlu perhatian serius dari segenap pihak, khususnya pada
guru pembimbing atau konselor. Dan tak lepas dari peranan kepala sekolah, guru
mata pelajaran, maupun staf kantor. Kurangnya perhatian terhadap masalah
kesehatan mental peserta didik tak jarang berakibat pada timbulnya
maladjustment atau tindakan penyimpangan dalam berbagai bentuk dan tentunya
bisa sangat merugikan.
Manifestasi dari berbagai gejala
gangguan kesehatan mental yang dialami peserta didik ini pada akhirnya akan
mempengaruhi pencapaian kognitif akademik siswa berupa prestasi belajar dan
berpengaruh terhadap perkembangan psikis yang tidak optimal pada siswa.
Pengaruh pada prestasi belajar umumnya ditandai dengan menurunnya daya tangkap terhadap
materi yang diajarkan, ketidakmampuan dalam menyelesaikan tugas maupun ujian
yang berakibat pada jatuhnya hasil belajar yang ditandai dengan nilai-nilai
yang tidak memenuhi standar. Sedangkan pada perkembangan psikis, hal ini terkait
pada masalah kenakalan remaja berupa tingkah laku agresif, pergaulan bebas,
tindak asusila. Pada kedisiplinan berupa menyontek, acuh terhadap tata tertib,
ketidakrapian dalam berpakaian. Gangguan mental nampak pada sikap yang dingin terhadap
lingkungan, selalu murung, rasa cemas yang belebihan.
Dari uraian singkat diatas secara umum
kita mampu memahami kesehatan mental di lingkungan sekolah. Maka beberapa hal
yang dapat diupayakan untuk menerapkan prinsip kesehatan mental di lingkungan
sekolah, Dr. Muh Surya (1985)
mengungkapkan beberapa saran diantaranya :
1) Menciptakan
situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah (at home) bagi anak didik, baik secara sosial, fisik, maupun
akademis.
2) Menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan bagi anak.
3) Usaha
pemahaman anak didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun
seluruh aspek pribadinya.
4) Menggunakan
metode dan alat belajar yang dapat memotivasi belajar.
5) Ruangan
kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
6) Menggunakan
prosedur evaluasi yang dapat membesarkan motivasi belajar.
7) Menciptakan
situasi sosial yang baik dan membantu perkembangan pribadi anak.
8) Peraturan/tata
tertib yang jelas dan dipahami
oleh murid.
9) Penyesuaian
program pendidikan dengan kebutuhan dan pribadi anak.
10) Teladan
dari para guru dalam segala segi pendidikan.
11) Kerjasama
dan saling pengertian dari para guru dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di
sekolah.
12) Pelaksanaan
program bimbingan dan penyuluhan (konseling) yang sebaik-baiknya.
13) Pelaksanaan
UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) termasuk usaha
kesehatan mental.
14) Penyediaan
fasilitas belajar yang memadai.
Masih terkait dengan paparan di atas bahwa pendekatan
yang digunakan pada peserta didik bukan lagi bersifat kuratif penyembuhan
dimana tindakan muncul ketika siswa baru mengalami masalah tetapi lebih
diarahkan pada perkembangan (developmental
approach). Hal ini bersifat edukatif pengembangan dan outreach (Nurihsan :
2009)
Maka dibutuhkan layanan yang bersifat
komprehensif dari tiap-tiap komponen sekolah. Konselor dituntut mampu
memberikan layanan konseling serta mampu meyampaikan bimbingan dengan baik.
Selain itu juga dituntut untuk dapat bersinergi dengan guru mata pelajaran,
kepala sekolah, dan warga sekolah yang lain juga ketersediaan fasilitas yang mendukung
guna terciptanya kesehatan mental di lingkungan sekolah.
b. Lingkungan
Kerja
Sebagaimana biasa dilakukan, di sini
kita pun membahas keselamatan dan kesehatan kerja bersama-sama. Walaupun ada
hubungan erat antara kesehatan kerja dan keselamatan kerja, namun ada alasan untuk
membedakan dua masalah itu.
Keselamatan kerja bisa terwujud bilamana
tempat kerja itu aman jika bebas dari risiko terjadinya kecelakaan yang
mengakibatkan si pekerja cedera atau bahkan mati.
Kesehatan kerja dapat direalisasikan
karena tempat kerja dalam kondisi sehat. Tempat kerja bisa dianggap sehat,
kalau bebas dari risiko terjadinya gangguan kesehatan atau penyakit (occupational diseases) sebagai akibat
kondisi kurang baik di tempat kerja.
Beberapa hal yang terjadi di lingkungan
kerja yang menimbulkan gangguan mental :
1) Tuntutan
pekerjaan
2) Rekan
yang kurang kondusif
3) Iklim
pekerjaan
c. Lingkungan
Masyarakat
Masyarakat sebagai tempat interaksi
terdekat setelah lingkungan
keluarga memiliki andil yang besar untuk menjadikan individu sehat mental atau
tidak. Masyarakat memiliki pengaruh dalam membentuk pola pikir dan cara pandang
diri sendiri atau orang lain.
Beberapa hal yang terjadi di lingkungan
masyarakat yang menimbulkan gangguan mental :
1) Penerimaan
sosial masyarakat terhadap diri
2) Iklim
pergaulan
3) Cara
berfikir masyarakat
D.
Cara
Memelihara Kesehatan Mental
Seseorang
dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan
prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :
1. Mempunyai
self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
2. Memiliki
interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema
hidup termasuk stres.
3. Mampu
mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
4. Mampu
bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain.
5. Menemukan
minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan.
6. Memiliki
falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
7. Mawas
diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul.
8. Memiliki
perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
REFERENSI
Daradjad,
Zakiah. 1983. Kesehatan Mental.
Jakarta : PT Gunung Agung
Semiun,
Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1.
Yogyakarta : Kanisius.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar