Sabtu, 12 Mei 2012

TUGAS KELOMPOK
MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK




  

    DISUSUN OLEH KELOMPOK 6 :

1.      HAWINDA WIDYA                                      K3109037
2.      NIKEN RITHMAYANTI                               K3109055
3.      ZAFIRAH FARIS                                           K3109084

                               SEMESTER 6 / BK A
Laporan ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Pengembangan Sistem Pembelajaran
Dosen Pengampu : Drs.Mudaris Muslim, M.Si


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012



BAB I
PENDAHULUAN

Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang optimal.
Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif, maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru terhadap perkembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas. Demikian juga, pentingnya pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia, kondisi kelas dan beberapa faktor lain yang terkait dengan pembelajaran. Tanpa pemahaman terhadap berbagai kondisi ini, model yang dikembangkan guru cenderung tidak dapat meningkatkan peran serta siswa secara optimal dalam pembelajaran, dan pada akhirnya tidak dapat memberi sumbangan yang besar terhadap pencapaian hasil belajar siswa.
Mempertimbangkan pentingnya hal diatas, maka akan dibahas secara mendalam model pembelajaran investigasi kelompok.






BAB II
ISI

A.    Pengertian Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Investigasi atau penyelidikan merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil benar sesuai pengembangan yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya diawali dengan pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada berbagai teori investigasi.
Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno, 1999 : 162), model belajar “investigasi” sebenarnya dapat dipandang sebagai model belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”. Tetapi model belajar “investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah yang divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai, mungkin tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya, dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.
Sedangkan investigasi kelompok merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.  Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model investigasi kelompok dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran
Investigasi kelompok adalah strategi belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis kelamin, suku, dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik (Eggen & Kauchak, 1998:305). Sedangkan menurut Sharan dan Sharan (1992) (dalam Slavin, 1995:11) Investigasi kelompok merupakan suatu perencanaan pengorganisasian kelas secara umum dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan inkuiri kooperatif, diskusi kelompok, dan perencanaan kooperatif  diskusi kelompok, dan perencanaan kooperatif dan proyek. Dalam metode ini, guru membentuk kelompok siswa yang terdiri dari dua sampai enam anak. Langkah selanjutnya adalah membagi tugas-tugas menjadi tugas individu yang berbeda, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiap kan laporan kelompok. Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan penemuannya di depan kelas. Walaupun agak sulit dilakukan, cooperative learning model investigasi kelompok ini perlu diterapkan.
Pada investigasi, siswa bekerja secara bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya. Kadang mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam metode investigasi kelompok terdapat tiga konsep utama ( Udin S. Winaputra, 2001:75). , yaitu:
a.      Penelitian atau enquiri
Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut.
b.      Pengetahuan atau knowledge
Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
c.       Dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group
Dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.

B.     Tujuan Penggunaan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Menurut Aunurrahman (2005:152) Seorang guru dapat menggunakan strategi investigasi kelompok di dalam proses pembelajaran dengan tujuan, antara lain sebagai berikut:
  1.         Agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi atau  materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat  pada guru.
  2.    Mendorong siswa untuk lebih kritis tentang ide-ide yang disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan
  3.       Meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai  persoalan di luar kelas
  4.            Membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi
  5.            Mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti  halnya cooperative learning
  6.            Peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.
B.    Hal-hal Penting dalam Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Investigasi kelompok adalah:

  1.      Menguasai Kemampuan Kelompok
Kesuksesan implementasi dari investigasi kelompok sebelumnya menuntut pelatihan dalam kemampuan komunikasi dan sosial. Fase ini sering disebut sebagai meletakkan landasan kerja atau  pembentukan tim. Guru dan siswa melaksanakan sejumlah kegiatan akademik dan non akademik yang dapat membangun norma-norma perilau kooperatif yang sesuai di dalam kelas. Seperti yang terkesan dari namanya, investigasi kelompok sesuai untuk proyek-proyek studi yang terintegrasi yang berhubungan dengan hal-hal semacam penguasaan, analisis dan mensistesiskan informasi sehubungan dengan upaya menyelesaikan masalah yang bersifat multi-aspek. Tugas akademik haruslah menyediakan kesempatan bagi anggota kelompok untuk memberikan berbagi macam kontribusi dan tidak boleh dirancang hanya sekedar untuk bisa menjawab pertanyaan yang bersifat faktual (siapa, apa, kapan,dsb). Misalnya investigasi kelompok akan sangat ideal untuk mengajari tentang pelajaran sejarah dan budaya dari sebuah Negara atau tentang pelajaran biologi hutan hujan, tetapi tidak sesuai digunakan untuk mengajari pelajaran kemampuan pemetaan atau unsur-unsur tabel periodik. Secara umum, guru merancang sebuah topik yang cakupannya dimana para siswa selanjutnya membagi topik tersebut ke dalam subtopik. Subtopik ini adalah merupakan sebuah hasil perkembangan dari keterkaitan dan latarbelakang siswa, yang sama halnya dengan pertukaran gagasan di antra para siswa.
Sebagian dari investigasi, para siswa mencari informasi dari berbagai sumber baik di dalam maupun di luar kelas. Sumber-sumber seperti (bermacam buku, institusi, orang) menawarkan sederetan gagasan, opini, data, solusi ataupun posisi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dipelajari. Para siswa selanjutnya mengevaluasi dan mensistesiskan informasi yang disumbangkan oleh tiap anggota kelompok supaya dapat menghasilkan buah karya kelompok.
2. Perencana Koperatif
Penting bagi investigasi kelompok adalah perencanaan kooperatif siswa atas apa yang dituntut dari mereka. Anggota kelompok mengambil bagian dalam merencanakan berbagai dimensi dan tuntutan dari proyek mereka. Bersama mereka menentukan apa yang mereka ingin investigasikan sehubungan dengan upaya mereka untuk “menyelesaikan masalah yang mereka hadapi; sumber apa yang mereka butuhkan; siapa akan melakukan apa; dan bagaimana mereka akan menampilkan proyek mereka yang sudah selesai ke hadapan kelas”. Biasanya ada pembagian tugas dalam kelompok yang mendorong tumbuhnya interdependensi yang bersifat positif di antara anggota kelompok.
Kemampuan perencanaan kooperatif harus diperkenalkan secara bertahap ke dalam kelas dan dilatih dalam berbagai situasi sebelum kelas tersebut melaksanakan proyek investigasi berskala penuh. Para guru dapat memimpin diskusi dengan seluruh kelas atau dengan kelompok-kelompok kecil, untuk memunculkan gagasan-gagasan untuk menerapkan tiap aspek kegiatan kelas. Para siswa dapat membantu rencana kegiatan-kegiatan jangka pendek yang hanya akan dilakukan untuk satu periode, atau bisa juga untuk kegiatan jangka panjang. Kegiatan apa saja mulai dari menamai ikan emas sampai mengatur perjalanan kelas atau membentuk dewan kelompok merupakan kegiatan-kegiatan yang cukup sesuai untuk perencanaan kooperatif.

           3. Peran Guru
Dalam kelas yang melaksanakan proyek investigasi kelompok guru bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator. Guru tersebut berkeliling diantara kelompok-kelompok yang ada dan, untuk melihat bahwa mereka bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus yang berkaitan dengan proyek pembelajaran.
Peran guru ini dipelajari dengan praktik sepanjang waktu, seperti halnya para siswa. Yang pertama dan terpenting, adalah guru harus membuat model kemampuan komunikasi dan sosial yang diharapkan dari para siswa. Ada banyak kesempatan bagi guru sepanjang waktu sekolah untuk memikirkan berbagai variasi peran kepemimpinan, seperti dalam diskusi dengan seluruh kelas atau dengan kelompok-kelompok kecil. Dalam diskusi ini guru mebuat model-model dari berbagai kemampuan: mendengarkan, membuat ungkapan, memberi reksi yang tidak menghakimi, mendorong partisipasi dan sebagainya. Diskusi ini dapat ditamah dan ditujukan pada penentuan tujuan pembelajaran jangka pendek dan sebagai sarana untuk meraihnya.
Tidak diragukan lagi bahwa sebagian apek yang berhubungan dengan kurikulum mungkin saja tidak dapat sesuai dengan investigasi kelompok. Lebih jauh lagi, subtopik yang dipilih oleh para siswa untuk mereka teliti haruslah tidak hanya materi-materi yang subyeknya dipelajari para siswa. Investigasi subtopik yang dipilih siswa harus ditambahkan dengan pengajaran mengenai topik lainnya oleh guru, yang menurut guru tersebut memang penting. Guru dengan demikian dapat memperluas unit dengan memberikan pengajaran langsung kepada seluruh kelas, memberikan pengajaran yang terindividualisasi dalam sentra-sentra pembelajaran, atau kombinasi apa pun dari metode-metode tersebut. Pembelajaran ini bisa saja diberikan sebelum, setelah atau selama dalam masa kelas melaksanakan investigasi kelompok (Cohen, 1986; Sharan dan Sharan, 1992). Misalnya, di dalam kelas yang sedang mempelajari tentang Perang Dunia I guru bisa saja menyampaikan pelajaran kepada kelas mengenai geografi dan sejarah Eropa beberapa saat sebelum perang terjadi dan kemudian memulai unit investigasi kelompok dimana para siswa berfokus pada topik yang menurut mereka menarik.

C.     Tahap – Tahap Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Tahap 1: Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok (Grouping)
·         Para siswa meneliti beberapa sumber, memilih topik, dan mengkategorikan saran-saran.
·         Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang  telah mereka pilih.
·         Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
·         Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.

Tahap 2: Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari (Planning)
·         Para siswa merencanakan bersama mengenai:
Apa yang kita pelajari ?
Bagaimana kita mempelajarinya?
Siapa melakukan apa? (pembagian tugas).
Untuk tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi  topik ini?

Tahap 3: Melaksanakan Investigasi ( Investigation)
·         Para siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat  kesimpulan.
·         Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
·         Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua   gagasan.


Tahap 4: Menyiapkan Laporan Akhir (Organizing)
·         Anggota kelompok menentukan pesan-pesan essensial dari proyek mereka.
·         Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka
·         Wakil-wakil kelompok membentuk sebuah panitia acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.

Tahap 5: Mempresentasikan Laporan Akhir (Presenting)
·         Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk
·         Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif
·         Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.

Tahap 6: Evaluasi (Evaluating)
·         Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai keefektifan pengalaman-pengalaman mereka
·         Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
·         Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi

D.    Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
v  Kelebihan
1.      Pembelajaran dengan kooperatif model Investigasi kelompok memiliki dampak positif dalam
       meningkatkan prestasi belajar siswa.
2.  Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Investigasi kelompok mempunyai pengaruh  positif,yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
3.  Pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang.
4.  Model pembelajaran investigasi kelompok melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya.
5.   Memotivasi dan mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai
      tahap akhir pembelajaran.

v  Kekurangan
Model pembelajaran investigasi kelompok merupakan model pembelajaran yang kompleks dan sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Kemudian pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran investigasi kelompok juga membutuhkan waktu yang lama.





BAB III
PENUTUP


Investigasi kelompok merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. 
Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model investigasi kelompok dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran
Dalam metode investigasi kelompok terdapat tiga konsep utama ( Udin S. Winaputra, 2001:75). , yaitu:
a.      Penelitian atau enquiri
Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut.
b.       Pengetahuan atau knowledge
Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung.
c.        Dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group
Dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.

REFERENSI

Aunurrahman, (2005). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Slavin, Robert. (2005). Cooperative Learning: Teori, Riset dan Praktik. Bandung:             
           Nusa.Media.
Udin, S.,Winataputra (2001). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Universi
       Tas Terbuka.




1 komentar: