TUGAS KELOMPOK
MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI KELOMPOK
DISUSUN OLEH KELOMPOK 6 :
1.
HAWINDA WIDYA K3109037
2.
NIKEN RITHMAYANTI K3109055
3.
ZAFIRAH FARIS K3109084
SEMESTER 6 / BK A
Laporan ini
disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Pengembangan
Sistem Pembelajaran
Dosen
Pengampu : Drs.Mudaris Muslim, M.Si
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
Keberhasilan
proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan
model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas
keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Pengembangan
model pembelajaran yang tepat pada dasarnya bertujuan untuk menciptakan kondisi
pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar secara aktif dan
menyenangkan sehingga siswa dapat meraih hasil belajar dan prestasi yang
optimal.
Untuk dapat
mengembangkan model pembelajaran yang efektif, maka setiap guru harus memiliki
pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara
pengimplementasian model-model tersebut dalam proses pembelajaran. Model
pembelajaran yang efektif memiliki keterkaitan dengan tingkat pemahaman guru
terhadap perkembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas. Demikian juga,
pentingnya pemahaman guru terhadap sarana dan fasilitas sekolah yang tersedia,
kondisi kelas dan beberapa faktor lain yang terkait dengan pembelajaran. Tanpa
pemahaman terhadap berbagai kondisi ini, model yang dikembangkan guru cenderung
tidak dapat meningkatkan peran serta siswa secara optimal dalam pembelajaran,
dan pada akhirnya tidak dapat memberi sumbangan yang besar terhadap pencapaian
hasil belajar siswa.
Mempertimbangkan pentingnya
hal diatas, maka akan dibahas secara mendalam model pembelajaran investigasi
kelompok.
BAB
II
ISI
A.
Pengertian
Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Investigasi atau penyelidikan merupakan
kegiatan pembelajaran yang memberikan kemungkinan siswa untuk mengembangkan
pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan dan hasil benar sesuai pengembangan
yang dilalui siswa (Soppeng, 2009) . Kegiatan belajarnya diawali dengan
pemecahan soal-soal atau masalah-masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan
kegiatan belajar selanjutnya cenderung terbuka, artinya tidak terstruktur
secara ketat oleh guru, yang dalam pelaksananya mengacu pada berbagai teori
investigasi.
Menurut Soedjadi (dalam Sutrisno, 1999 :
162), model belajar “investigasi” sebenarnya dapat dipandang sebagai model
belajar “pemecahan masalah” atau model “penemuan”. Tetapi model belajar
“investigasi” memiliki kemungkinan besar berhadapan dengan masalah yang
divergen serta alternatif perluasan masalahnya. Sudah barang tentu dalam
pelaksanaannya selalu perlu diperhatikan sasaran atau tujuan yang ingin
dicapai, mungkin tentang suatu konsep atau mungkin tentang suatu prinsip.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa investigasi adalah proses penyelidikan yang dilakukan
seseorang, dan selanjutnya orang tersebut mengkomunikasikan hasil perolehannya,
dapat membandingkannya dengan perolehan orang lain, karena dalam suatu
investigasi dapat diperoleh satu atau lebih hasil.
Sedangkan investigasi kelompok merupakan
salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif
yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari
sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan
yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui
internet. Siswa dilibatkan sejak
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya
melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model investigasi
kelompok dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri.
Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai
tahap akhir pembelajaran
Investigasi kelompok adalah strategi
belajar kooperatif yang menempatkan siswa ke dalam kelompok secara heterogen
dilihat dari kemampuan dan latar belakang, baik dari segi jenis kelamin, suku,
dan agama, untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik (Eggen &
Kauchak, 1998:305). Sedangkan menurut Sharan dan Sharan (1992) (dalam Slavin,
1995:11) Investigasi kelompok merupakan suatu perencanaan pengorganisasian
kelas secara umum dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan inkuiri
kooperatif, diskusi kelompok, dan perencanaan kooperatif diskusi kelompok, dan perencanaan kooperatif
dan proyek. Dalam metode ini, guru membentuk kelompok siswa yang terdiri dari
dua sampai enam anak. Langkah selanjutnya adalah membagi tugas-tugas menjadi tugas
individu yang berbeda, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiap
kan laporan kelompok. Masing-masing kelompok kemudian mempresentasikan penemuannya
di depan kelas. Walaupun agak sulit dilakukan, cooperative learning model investigasi
kelompok ini perlu diterapkan.
Pada investigasi, siswa bekerja secara
bebas, individual atau berkelompok. Guru hanya bertindak sebagai motivator dan
fasilitator yang memberikan dorongan siswa untuk dapat mengungkapkan pendapat
atau menuangkan pemikiran mereka serta menggunakan pengetahuan awal mereka
dalam memahami situasi baru. Guru juga berperan dalam mendorong siswa untuk
dapat memperbaiki hasil mereka sendiri maupun hasil kerja kelompoknya. Kadang
mereka memang memerlukan orang lain, termasuk guru untuk dapat menggali
pengetahuan yang diperlukan, misalnya melalui pengembangan pertanyaan-pertanyaan
yang lebih terarah, detail atau rinci. Dengan demikian guru harus selalu
menjaga suasana agar investigasi tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam metode investigasi kelompok
terdapat tiga konsep utama ( Udin S. Winaputra, 2001:75). , yaitu:
a.
Penelitian
atau enquiri
Penelitian di sini
adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan
masalah tersebut.
b.
Pengetahuan
atau knowledge
Pengetahuan adalah
pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak
langsung.
c.
Dinamika
kelompok atau the dynamic of the learning group
Dinamika kelompok
menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang
melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui
proses saling beragumentasi.
B.
Tujuan
Penggunaan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Menurut Aunurrahman (2005:152) Seorang guru
dapat menggunakan strategi investigasi kelompok di dalam proses pembelajaran
dengan tujuan, antara lain sebagai berikut:
- Agar siswa-siswa mencapai studi yang mendalam tentang isi atau materi, yang tidak dapat dipahami secara memadai dari sajian-sajian informasi yang terpusat pada guru.
- Mendorong siswa untuk lebih kritis tentang ide-ide yang disajikan dari fakta-fakta yang mereka dapatkan
- Meningkatkan minat siswa terhadap suatu topik yang memotivasi mereka membicarakan berbagai persoalan di luar kelas
- Membantu siswa memahami tindakan-tindakan pencegahan yang diperlukan atas interpretasi informasi
- Mengembangkan keterampilan-keterampilan penelitian, yang selanjutnya dapat mereka pergunakan di dalam situasi belajar yang lain, seperti halnya cooperative learning
- Peningkatan dan perluasan kemampuan siswa.
B.
Hal-hal
Penting dalam Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh
(2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Investigasi kelompok
adalah:
- Menguasai Kemampuan Kelompok
Kesuksesan implementasi dari investigasi
kelompok sebelumnya menuntut pelatihan dalam kemampuan komunikasi dan sosial.
Fase ini sering disebut sebagai meletakkan landasan kerja atau pembentukan tim. Guru dan siswa melaksanakan
sejumlah kegiatan akademik dan non akademik yang dapat membangun norma-norma
perilau kooperatif yang sesuai di dalam kelas. Seperti yang terkesan dari
namanya, investigasi kelompok sesuai untuk proyek-proyek studi yang
terintegrasi yang berhubungan dengan hal-hal semacam penguasaan, analisis dan
mensistesiskan informasi sehubungan dengan upaya menyelesaikan masalah yang
bersifat multi-aspek. Tugas akademik haruslah menyediakan kesempatan bagi
anggota kelompok untuk memberikan berbagi macam kontribusi dan tidak boleh
dirancang hanya sekedar untuk bisa menjawab pertanyaan yang bersifat faktual
(siapa, apa, kapan,dsb). Misalnya investigasi kelompok akan sangat ideal untuk
mengajari tentang pelajaran sejarah dan budaya dari sebuah Negara atau tentang
pelajaran biologi hutan hujan, tetapi tidak sesuai digunakan untuk mengajari
pelajaran kemampuan pemetaan atau unsur-unsur tabel periodik. Secara umum, guru
merancang sebuah topik yang cakupannya dimana para siswa selanjutnya membagi
topik tersebut ke dalam subtopik. Subtopik ini adalah merupakan sebuah hasil
perkembangan dari keterkaitan dan latarbelakang siswa, yang sama halnya dengan
pertukaran gagasan di antra para siswa.
Sebagian dari investigasi, para siswa
mencari informasi dari berbagai sumber baik di dalam maupun di luar kelas.
Sumber-sumber seperti (bermacam buku, institusi, orang) menawarkan sederetan
gagasan, opini, data, solusi ataupun posisi yang berkaitan dengan masalah yang
sedang dipelajari. Para siswa selanjutnya mengevaluasi dan mensistesiskan
informasi yang disumbangkan oleh tiap anggota kelompok supaya dapat
menghasilkan buah karya kelompok.
2. Perencana Koperatif
Penting bagi investigasi kelompok adalah
perencanaan kooperatif siswa atas apa yang dituntut dari mereka. Anggota kelompok
mengambil bagian dalam merencanakan berbagai dimensi dan tuntutan dari proyek
mereka. Bersama mereka menentukan apa yang mereka ingin investigasikan
sehubungan dengan upaya mereka untuk “menyelesaikan masalah yang mereka hadapi;
sumber apa yang mereka butuhkan; siapa akan melakukan apa; dan bagaimana mereka
akan menampilkan proyek mereka yang sudah selesai ke hadapan kelas”. Biasanya
ada pembagian tugas dalam kelompok yang mendorong tumbuhnya interdependensi
yang bersifat positif di antara anggota kelompok.
Kemampuan perencanaan kooperatif harus
diperkenalkan secara bertahap ke dalam kelas dan dilatih dalam berbagai situasi
sebelum kelas tersebut melaksanakan proyek investigasi berskala penuh. Para
guru dapat memimpin diskusi dengan seluruh kelas atau dengan kelompok-kelompok
kecil, untuk memunculkan gagasan-gagasan untuk menerapkan tiap aspek kegiatan
kelas. Para siswa dapat membantu rencana kegiatan-kegiatan jangka pendek yang
hanya akan dilakukan untuk satu periode, atau bisa juga untuk kegiatan jangka
panjang. Kegiatan apa saja mulai dari menamai ikan emas sampai mengatur
perjalanan kelas atau membentuk dewan kelompok merupakan kegiatan-kegiatan yang
cukup sesuai untuk perencanaan kooperatif.
3. Peran
Guru
Dalam kelas yang melaksanakan proyek investigasi
kelompok guru bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator. Guru tersebut
berkeliling diantara kelompok-kelompok yang ada dan, untuk melihat bahwa mereka
bisa mengelola tugasnya, dan membantu tiap kesulitan yang mereka hadapi dalam
interaksi kelompok, termasuk masalah dalam kinerja terhadap tugas-tugas khusus
yang berkaitan dengan proyek pembelajaran.
Peran guru ini dipelajari dengan praktik
sepanjang waktu, seperti halnya para siswa. Yang pertama dan terpenting, adalah
guru harus membuat model kemampuan komunikasi dan sosial yang diharapkan dari
para siswa. Ada banyak kesempatan bagi guru sepanjang waktu sekolah untuk
memikirkan berbagai variasi peran kepemimpinan, seperti dalam diskusi dengan
seluruh kelas atau dengan kelompok-kelompok kecil. Dalam diskusi ini guru
mebuat model-model dari berbagai kemampuan: mendengarkan, membuat ungkapan, memberi
reksi yang tidak menghakimi, mendorong partisipasi dan sebagainya. Diskusi ini
dapat ditamah dan ditujukan pada penentuan tujuan pembelajaran jangka pendek
dan sebagai sarana untuk meraihnya.
Tidak diragukan lagi bahwa sebagian apek
yang berhubungan dengan kurikulum mungkin saja tidak dapat sesuai dengan
investigasi kelompok. Lebih jauh lagi, subtopik yang dipilih oleh para siswa
untuk mereka teliti haruslah tidak hanya materi-materi yang subyeknya
dipelajari para siswa. Investigasi subtopik yang dipilih siswa harus
ditambahkan dengan pengajaran mengenai topik lainnya oleh guru, yang menurut
guru tersebut memang penting. Guru dengan demikian dapat memperluas unit dengan
memberikan pengajaran langsung kepada seluruh kelas, memberikan pengajaran yang
terindividualisasi dalam sentra-sentra pembelajaran, atau kombinasi apa pun
dari metode-metode tersebut. Pembelajaran ini bisa saja diberikan sebelum,
setelah atau selama dalam masa kelas melaksanakan investigasi kelompok (Cohen,
1986; Sharan dan Sharan, 1992). Misalnya, di dalam kelas yang sedang
mempelajari tentang Perang Dunia I guru bisa saja menyampaikan pelajaran kepada
kelas mengenai geografi dan sejarah Eropa beberapa saat sebelum perang terjadi
dan kemudian memulai unit investigasi kelompok dimana para siswa berfokus pada topik
yang menurut mereka menarik.
C.
Tahap
– Tahap Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
Tahap 1:
Mengidentifikasikan Topik dan Mengatur
Murid ke dalam Kelompok (Grouping)
·
Para siswa meneliti
beberapa sumber, memilih topik, dan mengkategorikan saran-saran.
·
Para siswa bergabung
dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah mereka pilih.
·
Komposisi kelompok
didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen.
·
Guru membantu dalam
pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan.
Tahap 2: Merencanakan
Tugas yang akan Dipelajari (Planning)
·
Para siswa merencanakan
bersama mengenai:
Apa
yang kita pelajari ?
Bagaimana
kita mempelajarinya?
Siapa
melakukan apa? (pembagian tugas).
Untuk
tujuan atau kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?
Tahap 3: Melaksanakan
Investigasi ( Investigation)
·
Para siswa mengumpulkan
informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
·
Tiap anggota kelompok
berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya.
·
Para siswa saling
bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua gagasan.
Tahap 4: Menyiapkan
Laporan Akhir (Organizing)
·
Anggota kelompok
menentukan pesan-pesan essensial dari proyek mereka.
·
Anggota kelompok
merencanakan apa yang
akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka
akan membuat presentasi mereka
·
Wakil-wakil kelompok
membentuk sebuah panitia
acara untuk mengkoordinasikan rencana-rencana presentasi.
Tahap 5:
Mempresentasikan Laporan Akhir (Presenting)
·
Presentasi yang dibuat
untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk
·
Bagian presentasi
tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif
·
Para pendengar tersebut
mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan kriteria yang telah
ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.
Tahap 6: Evaluasi (Evaluating)
·
Para siswa saling
memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah
mereka kerjakan, mengenai keefektifan
pengalaman-pengalaman mereka
·
Guru dan murid
berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
·
Penilaian atas
pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi
D.
Kelebihan
dan Kekurangan Model Pembelajaran Investigasi Kelompok
v Kelebihan
1. Pembelajaran
dengan kooperatif model Investigasi kelompok memiliki dampak positif dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Penerapan
metode pembelajaran kooperatif model Investigasi kelompok mempunyai pengaruh positif,yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
3. Pembelajaran
yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa
dalam kelompok tanpa memandang latar belakang.
4. Model
pembelajaran investigasi kelompok melatih siswa untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi dan mengemukakan pendapatnya.
5. Memotivasi
dan mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama
sampai
tahap akhir pembelajaran.
v Kekurangan
Model
pembelajaran investigasi kelompok merupakan model pembelajaran yang kompleks
dan sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Kemudian
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran investigasi kelompok juga
membutuhkan waktu yang lama.
BAB III
PENUTUP
Investigasi
kelompok merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan
aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan
dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau
siswa dapat mencari melalui internet.
Siswa
dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk
mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki
kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses
kelompok. Model investigasi kelompok dapat melatih siswa untuk menumbuhkan
kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat
mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran
Dalam metode investigasi kelompok
terdapat tiga konsep utama ( Udin S. Winaputra, 2001:75). , yaitu:
a.
Penelitian
atau enquiri
Penelitian di sini
adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan
masalah tersebut.
b.
Pengetahuan
atau knowledge
Pengetahuan adalah
pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak
langsung.
c.
Dinamika
kelompok atau the dynamic of the learning group
Dinamika kelompok
menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan
berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling
beragumentasi.
REFERENSI
Aunurrahman, (2005).
Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Slavin, Robert. (2005). Cooperative Learning:
Teori, Riset dan Praktik. Bandung:
Nusa.Media.
Udin, S.,Winataputra (2001). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Universi
Tas
Terbuka.

thank you for visiting my blog :)
BalasHapus